Postingan

Ghost in the Cell: Ketika Penjara Menjadi Miniatur Kelam Indonesia

Gambar
Oleh: Anton Bahtiar Rifa'i  Sumber Foto: instagram/jokoanwar    Bagaimana cara mengekspresikan keresahan terhadap berbagai persoalan yang mendera Indonesia dan kian karut marut? Sutradara Joko Anwar menjawabnya dengan menghadirkan sosok hantu yang menebarkan teror di sebuah penjara antah berantah. Melalui film Ghost in the Cell , Joko Anwar menjadikan penjara itu sebagai miniatur kelam negeri ini, tempat berbagai kekacauan sosial, politik, dan moral bertemu dalam sebuah kisah horor yang penuh satire.      F ilm ini sejatinya mengangkat kisah sebuah penjara yang tiba-tiba dihantui teror mengerikan. Kematian beruntun para penghuni penjara, secara sadis dan misterius, menebarkan ketakutan. Mereka dihabisi oleh sosok hantu yang memiliki “selera seni”, yang meninggalkan mayat korban—dalam kondisi tercabik—laksana pameran seni instalasi. Teror hantu ini muncul setelah kedatangan penghuni baru penjara, Dimas (Endy Arfian), seorang jurnalis yang dituduh menghabisi ...

Uang dan Daya Imajinasi

Gambar
Usai perang salib yang berdarah-darah dan merenggut banyak nyawa, pihak Kristen menerbitkan uang koin emas dan perak bergambar salib, serta betuliskan ucapan syukur pada Tuhan. Di saat bersamaan, ada juga pihak yang membuat koin bertatahkan tulisan Arab yang menyatakan “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”. Toh, umat Kristen ketika itu dengan senang hati tetap mau menggunakan uang bertuliskan syahadat tersebut. Padahal, perbedaan keyakinan itu yang membuat mereka berperang dengan Islam. Di pihak Islam pun tak jauh beda. Para saudagar muslim di Afrika Utara menggunakan uang koin Kristen sebagai alat transaksi. Bahkan, para penguasa Islam yang ketika itu menyerukan jihad melawan Kristen, tetap menerima pembayaran pajak dengan menggunakan uang Kristen yang menyebut nama Yesus Kristus. Keyakinan manusia pada uang memang bisa melampaui keyakinan-keyakinan lain. Osama bin Laden, misalnya, yang sangat anti Amerika, tetap menerima dan menggunakan dolar Amerika. ...

Kebebasan yang Kusam dan Kecemasan Isaiah Berlin

Gambar
Demokrasi di hari-hari ini telah sedemikian kusam. Kebebasan di era digital seringkali menjadi ladang bagi politik kebencian dan mobilisasi kebohongan. Kebebasan seakan mengalami titik balik. Ini mirip dengan situasi yang juga pernah dicemaskan Isaiah Berlin, filsuf Inggris keturunan Rusia, saat mendapati semangat pembebasan justru berubah menjadi totalitarianisme, seperti dipraktikkan rezim komunisme Josef Stalin di Uni Soviet tahun 1940-an. Hari ini, di era internet, kita bisa merasakan lagi keresahan Berlin, meski dalam skala dan konteks yang berbeda. Padahal, di awal kehadirannya, internet menawarkan harapan yang indah bagi demokrasi. Internet –terutama fitur media sosial— telah menjadi katalis bagi proses keterbukaan dan kebebasan di berbagai negara. Dalam perkembangannya, media sosial memang memiliki pengaruh yang kuat bagi demokrasi. Bahkan, revolusi dan perubahan penting di sejumlah negara bermula dari gerakan yang dimobilisasi melalui media sosial. Pada 2011, Preside...

Sayap Pikiran Ibnu Rusyd

Gambar
“Buah-buah pikiran memiliki sayap, dan tak seorang pun bisa mencegah mereka untuk terbang.” Kata-kata itu menjadi catatan penutup film Al Massir, sekaligus menjadi gambaran kisah hidup Ibnu Rusyd yang berakhir tragis. Ibnu Rusyd, pemikir muslim terkemuka di abad pertengahan, dikenal sebagai filsuf Aristotelian terbesar sepanjang masa. Ia menggunakan pendekatan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam memahami Tuhan dan ilmu agama. Ibnu Rusyd, yang juga merupakan ahli fiqh, tak mau sekadar mengandalkan mistisisme dan pengalaman personal. “Wahyu hanya bisa ditafsirkan dengan studi,” begitu keyakinan Ibnu Rusyd. Namun, banyak juga ahli fiqh yang menentang pemikir agama yang menggunakan pendekatan filsafat. Ini, antara lain, tergambar dalam pertentangan pemikiran antara Al Ghazali dan Ibnu Rusyd. Al Ghazali menulis buku "Tahafut al Falasifah" (Inkoherensi Filsafat), yang kemudian dibalas Ibnu Rusyd lewat buku "Tahafut at Tahafut" (Inkoherensi Inkoheren). Sejarah r...

Tragedi Sang Bohemian

Gambar
“Hidupmu akan sangat sulit,” ucap Mary Austin (Lucy Boynton) kepada sang kekasih, Freddie Mercury (Rami Malik), dalam salah satu adegan di film Bohemmian Rhapsody . Ia tak  kuasa menutupi gundah, setelah menyadari hubungannya harus berakhir, karena Freddie diketahui terlibat percintaan sesama jenis. Ketika itu, Freddie dan grup Queen baru saja mendulang sukses lewat album A Night at The Opera , yang melambungkan lagu Bohemian Rhapsody . Ucapan Mary pun belakangan terbukti. Kisah hidup Freddie menjadi tragedi. Percintaannya dengan Paul Prenter (Allen Leech) tak hanya menghancurkan kehidupan Freddie, tetapi juga grup Queen. Film besutan sutradara Brayn Singer ini mengisahkan perjalanan grup Queen, sejak menjadi band kampus hingga mencapai puncak kesuksesan. Termasuk kisah lahirnya ide-ide musikalitas yang brilian dari para anggota band: Freddie Mercury, Brian May (Gwilym Lee), Roger Taylor (Ben Hardy), serta John Deacon (Joseph Mazello). Kisah dalam film ini sebenarnya lebih dido...

Teladan dalam Senyap

Gambar
Kulonprogo bukanlah daerah yang jadi sorotan media, seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, pun tidak sepopuler Ahok, Risma, atau Kang Emil. Walau tanpa sorot media, Hasto Wardoyo, telah meletakkan spirit kemandirian sebuah bangsa. Ia mengajak warganya keluar dari kemiskinan, dengan kekuatan sendiri. Hasto memberi teladan dalam senyapnya publikasi. Ia memulai dengan gerakan "Bela dan Beli Kulonprogo". Antara lain, dengan mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan pelajar dan PNS di sana mengenakan seragam batik geblek renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu. Ternyata, dengan jumlah 80.000 pelajar dan 8.000 PNS, kebijakan ini mampu mendongkrak industri batik lokal. Sentra kerajinan batik tumbuh pesat, dari cuma dua menjadi 50-an. Seribuan perajin batik Kulonprogo yang biasanya bekerja di Yogyakarta, kini bisa bekerja di Kulonprogo. Uang ratusan miliar rupiah dari usaha kecil ini berputar di Kulonprogo. Puryanto,...

Laila Majenun

Gambar
Setelah selama belasan tahun hunting , akhirnya saya bisa mendapatkan dvd film Laila Majenun (1975), garapan sutradara Sjuman Djaya. Film drama musikal ini merupakan kolaborasi apik Sjuman dengan grup rock God Bless. Secara musikal, ini adalah tonggak kebangkitan God Bless dalam industri musik. Soundtrack garapan Ian Antono dan kawan-kawan di film ini, menjadi bagian dari album pertama God Bless, Huma di Atas Bukit . Di album ini, Sjuman turut menciptakan dua lag u: Huma di Atas Bukit  dan Sesat . Lirik kedua lagu itu benar-benar bisa bersenyawa dengan jiwa musikal God Bless. Dalam kapasitas sebagai musisi dan aktor, bagi Achmad Albar, ini merupakan pembuktian setelah malang melintang sebagai musisi di negeri Belanda bersama grup Clover Leaf, dan jauh sebelumnya pernah terlibat dalam film anak-anak Jendral Kantjil .